"Kadang-kadang saudara kita sendiri, yang juga turut menjadi pegawai Gouverment, dia tidak mau kumpul dengan kita. Sebab dia pikir derajatnya lebih tinggi daripada kita yang hanya menjadi saudagar atau petani."
-Student Hidjo, 1919.
Novel Student Hidjo merupakan karya fiksi klasik yang lahir dari pemikiran Mas Marco Kartodikromo, seorang wartawan, sastrawan, juga perintis kemerdekaan. Lahir di Cepu pada tahun 1890 dan tumbuh dalam keluarga priyayi rendahan.
Mas Marco Kartodikromo meninggal di Boven Digoel, Papua pada 18 Maret 1932. Sebelum diterbitkan menjadi buku, mulanya Student Hidjo sebuah cerita bersambung yang biasa dimuat pada surat kabar Sinar Hindia tahun 1918 kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku pada tahun 1919 di Semarang oleh N.V.Boekhandel en Drukkerij MASMAN & STROINK. Pada masanya, karya Mas Marco Kartodikromo ini dilabeli sebagai “Bacaan Liar” oleh pemerintah kolonial karena kritik dan sindirannya terhadap pemerintah kolonial Belanda. [1]
Sastra merupakan hasil pemikiran seseorang melalui pandangannya terhadap lingkungan sosial yang berada di sekelilingnya dengan menggunakan bahasa yang indah. Dalam karyanya Student Hidjo, Mas Marco Kartodikromo dengan berani memasukan penggambaran mengenai isu stratifikasi sosial di lingkungan masyarakat jawa pada masa kolonial.
Pada zaman kuno dahulu filsuf Aristoteles mengatakan, di dalam negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat, dan mereka yang ada di tengah-tengahnya. [2]
Hal tersebut menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu, orang telah mengenal dan mengakui adanya sistem pelapisan dalam masyarakat sebagai akibat adanya sesuatu yang mereka anggap berharga, sehingga ada yang mempunyai kedudukan di atas sebagai kaum borjuis ada pula yang di bawah sebagai kaum proletariat. Paham tersebu juga terjadi pada masa kolonial di Indonesia.
Cerita dimulai dari seorang pemuda yang baru lulus dari Hoogere Burgerschool (HBS) atau saat ini setara dengan SMA, pemuda tersebut bernama Hidjo, ia digambarkan sebagai tokoh pemuda yang pandai, dan gemar membaca. Hidjo diminta oleh ayahnya Raden Potronojo melajutkan pendidikan di Den Haag Belanda untuk menjadi insinyur agar dapat mengangkat derajat keluarganya yang hanya berlatar belakang saudagar. Karena orang Jawa pada masa itu masih memperhatikan derajat dalam urusan sosial. Seperti pada kutipan berikut,
“Saya ini hanya seorang saudagar. Kamu tahu sendiri waktu ini, orang seperti saya masih dipandang rendah oleh orang-orang yang menjadi pegawai Goouvernement” [3]
Kutipan di atas memberikan gambaran bahwa orang yang bekerja di Gouvernement lebih dihargai daripada seorang saudagar. Karena orang yang memiliki kekuasaan dan mempunyai wewenang yang besar akan memiliki lapisan teratas dalam kehidupan sosial. Sehingga, menganggap rendah lapisan masyarakat yang berada di bawahnya. Seperti pada kutipan paling awal artikel ini.
“Kadang-kadang saudara kita sendiri, yang juga turut menjadi pegawai Gouverment, dia tidak mau kumpul dengan kita. Sebab dia pikir derajatnya lebih tinggi daripada kita yang hanya menjadi saudagar atau petani.” [4]
Kemunculan stratifikasi sosial dalam kehidupan masyarakat membuat seseorang atau suatu kelompok merasa terasingkan atau terintimidasi karena ketidak adilan yang ditimpahkan oleh kaum borjuis yang beranggapan derajatnya lebih tinggi, seperti yang dirasakan oleh keluarga Hidjo. Sehingga ayahnya Raden Potronojo mengambil solusi dengan mengirim anaknya ke Den Hag untuk sekolah ingeniur (insinyur). Seperti pada kutipan,
“Pikirkanlah, zaman sekarang ini, anak-anak lelaki harus mempunyai kepandaian yang sepantasnya. Sebab kalau tidak begitu, anakmu akan kesulitan mendapatkan pekerjaan.” [5]
Dalam kutipan di atas dapat kita ketahui bahwasanya upaya yang dilakukan oleh Raden Potronojo adalah untuk membiaskan stigma bahwa stratifikasi sosial hanya dapat dikur melalui kekayaan dan kekuasaan, tetapi hal itu juga dapat diukur dengan kehormatan dan ilmu pengetahuan. Hidjo merupakan anak yang rajin dan cerdas, sehingga ayahnya sangat yakin bahwa anaknya dapat menyelesaikan studi dengan baik di Den Hag dan membuktikan kepada orang-orang congkak bahwa setiap orang itu sama, anak seorang saudagar pun dapat menempuh pendidikan di luar negeri dan menjadi insinyur.
Dampak dari adanya stratifikasi sosial pada masa kolonial juga dibuktikan ketika ibunya Hidjo Raden Nganten ingin menjodohkan putra dan saudaranya kepada keluarga Bupati Djarak, ia terus diikuti oleh rasa rendah diri dan hina dengan kelas keluarganya.
“Apakah Raden Ayu dan Raden Mas Tumanggung tidak malu mempunyai anak kawin dengan anaknya orang yang hina seperti kita?” [6]
Salah satu kelas sosial masyarakat terbaik pada abad ke -19 adalah mereka yang memiliki kedudukan dan jabatan seperti priyayi. Pada masa kolonial, para priyayi tersebut berperan sebagai penghubung antara pemerintah kolonial dan rakyat yang dijajah. Kedudukan mereka hanya dimanfaatkan demi kepentingan kolonial. Sehingga hal ini akhirnya disadari oleh bupati Djarak itu sendiri, bahwa setiap manusia adalah sama, ia tidak begitu mempedulikan stratifikasi sosial pada masa itu. Seperti pada kutipan di bawah ini:
“Tidak Raden Nganten, zaman sekarang ini tidak ada lagi orang hina dan mulia. Kalau dipikir, sebetulnya semua manusia itu sama saja. Saya seorang Regent, itu kalau dipikir mendalam, saya ini tidak ada bedanya dengan jongos atau tukang kebun Belanda. Jadi saya ini sebagaimana perkataan umum buruh. Maka dari itu umpama anak saya kawin dengan anak tuan apa jeleknya? Asal yang menjalaninya suka!” [7]
Jelas tidak semua orang pada masa itu merasa paling tinggi derajatnya karena status sosialnya yang lebih baik dari yang lainnya. Ada juga mereka yang bersikap seperti Bupati Djarak, menyadari posisinya yang sesungguhnya tidak lebih baik dari seorang buruh.
Pada kenyataannya, di era secanggih abad 21 pun masyarakat masih mengotak-kotakan status sosial. Contohnya, strata sosial berdasarkan tingkat kekayaan dan jabatan politik, posisi itu dapat menentukan seberapa hormat orang lain terhadapnya.
Kemudian dalam dunia pendidikan, golongan yang memiliki kekayaan dapat menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi dengan fasilitas yang memadai, tetapi sebaliknya dengan yang berpenghasilan pas-pasan, kesempatan itu sukar untuk dapat dirasakan. Di bidang kesehatan, mereka yang maju secara ekonomi, dapat berobat ke rumah sakit yang berfasilitas layak dan lengkap, sebaliknya tidak dengan rakyat miskin. Terakhir, dalam hal pekerjaan, mereka yang memiliki modal besar akan mendapat peluang lebih besar dalam mengembangkan usahanya.
Daftar pustaka:
[1] Novi Diah Haryanti, Bidadari dan Si Penggoda Representasi Tokoh-Tokoh Perempuan dalam Novel Student Hidjo. DIALEKTIKA| P-ISSN:2407-506X|E-ISSN:2502-5201. 2017. Hlm.102
[2] Soekanto dan Sulistyowati. Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014)
[3] Mas Marco Kartodikromo, Student Hidjo. (Yogyakarta: Bentang Budaya,2000), hlm.2
[4] Ibid., Hlm. 3.
[5] Ibid., Hlm. 1.
[6] Ibid., Hlm. 148.
[7] Ibid., Hlm. 148.
Bagus parah sih, banyak bgt yg bisa dijadikan perlajaran yg bisa di aplikasikan dalam aspek kehidupan. Mantapppp
BalasHapus